Senin, 13 Juni 2011

Sarangeul Yuji part 4

____
Bel rumah berbunyi. Heechul oppa menyuruhku membuka pintu. Dia sibuk membuat sup ikan. Aku segera ke depan dan meninggalkan kegiatan mencuci piringku.

"Annyeong haseo Nuna." seru Seung Ho manis.

"Ne, annyeong haseo. Mari masuklah. Kami sedang memasak." ajakku.

"Aku takut mengganggu makan malam kalian." ujarnya. Aku menariknya dan menutup pintu.

"Bukannya kau sering makan disini? Kenapa kali ini menolak?" tanyaku. Dia hanya senyam senyum.

"Apa Hyung yang masak?" tanyanya. Aku mengangguk.

"Oh, iya ini tasmu. Tidak perlu mengucapkan terima kasih." ujarnya lalu masuk ke dapur. Aku geleng-geleng kepala melihatnya. Aku lalu melanjutkan kegiatan cuci piringku.

"Hai Hyung." sapa Seung Ho pada oppa.

"Hyak! Kenapa kau datang lagi? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidak datang lagi." seru Heechul oppa dengan tampang kesal. Aku menatapnya bingung.

"Apa karna aku tidak mencuci piring semalam? Aigo, hyung. Aku tidak tega menghapus sisa-sisa masakan milik Yoo Jin nuna." ujar Seung Ho. Heechul oppa ingin memukulnya dengan tutup panci. Aku memandangnya sebal.

"Ya sudah. Cepat tata piringnya. Aku sudah lapar." ujar Heechul.

"Ye hyung." seru Seung Ho.

Kami makan malam bertiga. Seung Ho sibuk bercerita tentang film yang ditontonnya. Kami berdua hanya mendengarkannya. Setelah makan, mereka berdua duduk di ruang tengah sambil main game. Sementara aku sibuk memberesi dapur dan mengumpulkan pakaian kotor untuk di cuci besok. Saat jalan ke ruang tengah, aku melihat mereka berdua tertidur. Aku segera mengambil selimut dan menyelimuti mereka. Heechul oppa terlihat lelah. Aku lalu mengambil bantal untuk mereka berdua.

____
Aku terbangun dari tidurku dan langsung mengecek ponselku. Biasanya Joong oppa akan membangunkanku lewat smsnya walaupun hanya mengucapkan selamat pagi. Aku melirik jam di meja kecilku. Pukul 8 pagi. Paling tidak dia akan mengirim sms dengan batas jam 7 pagi. Aku memandangi ponselku. Oppa, kau mulai mengabaikanku.

Aku bergegas mandi dan memakai mantelku lalu turun ke bawah. Aku tidak melihat Heechul oppa. Lagi-lagi dia pergi pagi-pagi sekali. Aku segera membersihkan ruangan yang agak berantakan. Menyusun novel-novel koleksi Heechul oppa. Dan terakhir mencuci pakaian kemudian membereskan dapur.
Bel berbunyi, aku membuka pintu.

"Seung Ho-ah."

"Nuna, aku kesepian di rumah. Boleh aku masuk?" tanyanya. Aku mengangguk. Dia menggigil kedinginan.

"Duduklah dulu aku akan buatkan kopi." ujarku.

"Aku selalu merepotkanmu." ujarnya.

"Aniyo." ujarku lalu pergi ke dapur.

"Nuna, bagaimana hubunganmu dengan Joong Ki hyung?" tanyanya mengikutiku ke dapur.

"Baik-baik saja." ujarku sambil berusaha tersenyum.

"Jinjja? Aku merasa Ji Yeon menyukainya. Lakukanlah sesuatu untuk menyelamatkan hubungan kalian. Aku siap membantu kapan pun Nuna butuh." ujarnya sambil tersenyum manis.

Aku menatapnya dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir." ujarku.

"Apa Joong Ki hyung tau betapa sulitnya menemukan gadis seperti Nuna?"

"Aku tidak tau." ujarku sambil menyerahkan secangkir kopi untuknya. Kami lalu duduk di ruang tengah.

"Nuna, apa kau tidak kesepian?"
Aku hanya menunduk dan memainkan cangkirku.

"Aku sudah terbiasa melewatinya." ujarku.

"Apa kau tau Heechul hyung pergi kemana setiap hari?"

Aku menggeleng.
"Heechul oppa tidak suka jika aku mencampuri urusannya. Lagipula aku tidak begitu akrab dengannya." ujarku.

"Nuna..."

"Seung Ho-ah, berhentilah memanggilku Nuna. Apa aku terlihat terlalu tua?" tanyaku sambil menyikutnya. Dia tertawa pelan.

"Aku hanya ingin menghormatimu saja." ujarnya.

"Tapi panggilan itu membuatku merasa tua walaupun kau lebih tinggi dariku." ujarku.

"Tapi aku menyukai panggilan itu." protesnya.

"Hyak! Kita sudah berteman selama 10 tahun. Dan kau terus-terusan memanggilku nuna. Bukankah itu terlalu berlebihan?"

"Apa kau kesal?" tanyanya.

"Kelihatannya?"

"Kau tidak akan pernah bisa marah. Kau benar-benar seorang kakak yang cute, lucu, sabar, dan baik hati. Satu lagi, kau sangat cantik."

"Hyak! Aku akan marah kalau kau bilang begitu." ujarku. Dia menarik pipiku.

"Coba saja kalau kau bisa." ejeknya. Aku menarik hidungnya. Kemudian kami tertawa bersama.

____
Aku menyiapkan makan malam sambil sesekali melirik ke arah jam. Heechul oppa belum juga pulang. Bel berbunyi. Aku segera berjalan ke depan dan membukakan pintu.

"Oppa, baru pulang?" tanyaku. Dia hanya memandangku tanpa menjawab. Kemudian dia berjalan dengan acuh.

"Oppa, aku sudah menyiapkan makan malam. Ayo kita makan" ajakku. Dia masuk ke kamarnya. Aku memandanginya dengan sedih. Aku tau oppa seberapa besar pun aku berbuat baik padamu, kau tetap tidak menganggapku ada.

Aku menunggunya di ruang makan. Akhirnya Heechul oppa datang dengan rambut yang masih basah.
"Oppa, bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini?" tanyaku.

"Kenapa kau ingin tau apa yang aku lakukan? Urus saja dirimu sendiri." ujarnya lalu pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan coment anda ^^